A.
Pengertian ilmu tasawuf
Menurut kamus
bahasa indonesia kata tasawuf di ambil dari safa yang berarti bersih, dinamakan
sufi karena hatinya tulus dan bersih dihadapan tuhannya. Tasawuf adalah ajaran
tentang kepercayaan yang dapat di capai dengan kekuatan ketetapan bathin pada
Allah.
Simuh
berpendapat bahwa tasawuf adalah proses pemikiran dan perasaan yang menurut
tabiatnya sulit didefinisikan. Tasawuf adalah mencari jalan untuk memproleh
kecintaan dan kesempurnaan rohani, atau berpindah dari kehidupan biasa menjadi
kehidpan sufi yang selalu tekun beribadah, jernih jiwa, dan hati ikhlas karna
Allah semat-mata.
Sedangkan
menurut Dr H. A. Mustafa, tasawuf adalah suatu kehidupan rohani yang merupakan
fitrah manusia dengan tujuan untuk mencapai hakikat yang tinggi, berada dekat
atau sedekat mungkin pada Allah dengan jalan membersihkan jiwa dari kungkungan
jasadnya yang menyadarkannya pada kehidupan kebendaan di samping melepaskan
jiwanya dari noda-noda sifat dan perbuatan yang tercela.
Ilmu tasawuf
dapat dilihat dari tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk
mendefinisikan, yaitu sebagai berikut:
1.
Sudut pandang
manusia sebagai makhluk terbatas. Maka tasawuf didefinisikan sebagai upaya
mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan
perhatian hanya kepada Allah.
2.
Sudut pandang
manusia sebagai makhluk yang harus berjuang. Dalam hal ini tasawuf di
definisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber pada
jaran agama dalam mendekatkan diri pada Allah SWT.
3.
Sudut pandang
manusia sebagai makhluk bertuhan. Sudut pandang ini memfokuskan tentang
kesadaran fitrah yang mengarahkan jiwa agar selalu tertuju pada kegiatan yang
dapat menghubungkan manusia dengan tuhan.
Berdasarkan definisi ini, ilmu tasawuf intinya merupakan
upaya melatih jiwa dalam berbagai kegiatan yang dapat membebaskan manusia dari
pengaruh kehidupan duniawi, selalu dekat dengan Allah sehingga jiwa menjadi
bersih dan memancarkan akhlak mulia.
B.
Esensi Tasawuf
Tasawuf adalah
nama lain dari “mitisisme dalam Islam”. Dikalangan orientalis barat dikenal
dengan sebutan sufisme yang merupakan istilah khusus mitisisme Islam dan tidak
ada pada mitisisme pada agama lain.
Tasawuf
bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan. Hubungan
yang dimaksud mempunyai makna dengan penuh kesadaran, bahwa manusia sedang
berada dihadirat Tuhan.kesadaran tersebut akan menuju kontak komunikasi dan
dialog antara ruh manusia dengan Tuhan. Hal ini melalui cara bahwa manusia
perlu mengasingkan diri. Keberadaannya yang dekat dengan Tuhan akan berbentuk
Ijtihad (bersatu) dengan Tuhan.
Tasawuf atau
mitisisme dalam Islam beresensi pada hidup dan berkembang mulai dari bentuk
hidup “kezuhudan” (menjauhi kemewahan duniawi), dalam bentuk “tasawuf amali”
kemudian “tasawuf falsafati”.
Tijuan Tasawuf
untuk bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Dengan maksud ada perasaan
benar-benar berada dikehadirat Tuhan. Para sufi beranggapan bahwa ibadah yang
diselenggarakan dengan cara formal belum dianggap memuaskan karena belum memenuhi
kebutuhan spiritual kaum sufi.
Tasawuf adalah
aspek ajaran islam yang paling penting, karena peranan tasawuf merupakan jantug
atau urat nadi pelaksanaan ajaran Islam. Tasawuf inilah yang merupakan kunci
kesempurnaan amaliah dalam ajaran Islam. Memang disamping aspek tasawuf, dalam
Islam ada aspek lain yaitu apa yang disebut dengan akidah dan syariah, atau
dengan kata lain bahwa yang dimaksud “ Addin” (Agama) adalah terdiri dari
Islam, Iman, dan Ihsan, dimana ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan.
Untuk mengetahui hukum Islam kita harus lari pada syariat atau fiqih, untuk
mengetahui hukum Iman kita harus lari pada ushuludin atau akidah dan untuk
mengetahui kesempurnaan Ihsan kita masuk kedalam Tasawuf. Oleh karena itu,
Tasawuf ada kalanya membawa orang menjadi sesat dan musrik apabila seseorang
bertasawuf tanpa bertauhid dan bersyariat.
Tasawuf adalah
suatu kehidupan rohani yang merupakan fitrah manusia dengan tujuan untuk
mencapai hakikat yang tinggi, berada dekat atau sedekat mungkin dengan Allah
dengan jalan mensucikan jiwanya, dengan melepaskan jiwanya dari kungkungan
jasadnya yang menyadarkan hanya pada kehidupan kebendaan, disamping juga
melepaskan jiwanya dari noda-noda sifat dan perbuatan yang tercela.
Oleh karena itu
tasawuf adalah jalan spiritual dan merupakan dimensi batin. Abul ‘Ala Almaududi
menyebutkan apa yang berhubungan dengan perbuatan jiwa disebut dengan
tasawuf.
Tasawuf
merupakan sebagai ilmu agama, khusus berkaitan dengan aspek-aspek moral serta
tingkah laku yang merupakan subtansi Islam. Hakikat tasawuf adalah perpindahan
sikap mental, keadaan jiwa dari suati keadaan kepada keadaan yang lain yang
lebih baik, lebih tinggi dan lebih sempurna, suatu perpindahan dari alam
kebendaan kepada alam rohani.
C.
Model-model penelitian tasawuf
Tasawuf sebagai
ilmu yang telah berkembang semenjak zaman nabi hingga dewasa ini tentu
dipengaruhi terminologi dan bahasa khusus. Hal ini hanya bisa dimengerti dalam
kaitannya dengan kebiasaan dan penghayatan pada para sufi. Banyak istilah yang
beredar dikalangan para sufi yang perlu diketahui seperti maqom, hal, makrifat,
tarekat, hakikat dan hubungan. Istilah-istilah ini mempunyai makna khusus yang
tidak bisa dimengerti dengan makna bahasa (etimologi dan istilah) (terminologi)
dengan pengertian dalam syariah. Maka ajaran yang menjiwai seluruh pikiran dan
perbuatan tasawuf harus melalui cinta fana’ dan cinta kaswaf dalam istilah
tasawuf.
Sejalan dengan
fungsi dan peran tasawuf yang demikian itu, dikalangan para ahli telah timbul
upaya untuk melakukan penelitian tasawuf. Berbagai bentuk dan model penelitian
tasawuf secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.
Model Sayyed
Husein Nasr
Model
penelitian Tasawuf yang diajukan Husein Nasr adalah penelitian kualitatif dengan
pendekatan tematik yang berdasarkan pada studi kritis terhadap ajaran tasawuf
yang pernah berkembang dalam sejarah.
2.
Model Mustafa
Zahri
Model
penelitian yang digunakan adalah semata-mata bersifat eksploratif yang
menekankan pada ajaran yang terdapat dalam tasawuf berdasarkan literatur yang
tertulis oleh para ulama terdahulu serta dengan mencari sandaran Al-Quran dan
Al-Hadits.
3.
Model Kautsar
Azhari Noor
Penelitian yang
ditempuh Kautsar adalah studi tentang tokoh dengan pemahamnya yang khas, Ibn
Arabi dengan pahamnya Wahdat Al-Wujud. Penelitian ini cukup menarik karena
dilihat dari segi paham yang dibawakannya, yaitu wahdah al-wujud telah
menimbulkan kontroversi dikalangan para ulama karena paham tersebut dinilai
membawa paham reinkarnasi atau paham serba Tuhan.
4.
Model Harun
Nasution
Model
penelitian yang digunakan adalah bersifat deskritif eksploratif, yakni
menggambarkan ajaran sebagaimana adanya dengan mengemukakannya sedemikian rupa,
walaupun hanya dalam garis besarnya saja. Peneliti mengemukakan apa adanya
dengan sedikit melakukan perbandingan antara satu ajaran dengan ajaran tasawuf
lainnya, namun hal ini pun bukan ditujukan untuk mencari kelebihan dan
kekurangan dari ajaran-ajaran tersebut, tetapi sekedar untuk memperjelas ajaran
tersebut. Hal ini biasanya dilakukan dalam suatu penelitian deskritif, karena
tidak ada problema atau teori tertentu yang akan diuji kebenarannya.
5.
Model A.J.
Arberry
Model
pendekatan yang digunakan oleh Arberry yaitu pendekatan kombinasi antara
pendekatan tematik dengan pendekatan tokoh. Dari sisi penelitian tersebut,
tampak bahwa Arberry menggunakan analisis kesejahteraan, yakni berbagai tema
tersebut dipahami berdasarkan konteks sejarahnya, dan tidak dilakukan proses
aktualisasi nilai atau mentrasnformasikan ajaran-ajaran tersebut kedalam makna
kehidupan modern yang lebih luas.

No comments
Post a Comment