A. Sanad
1. Pengertian
Sanad menurut bahasa artinya sandaran atau
sesuatu yang dijadikan sebagai sandaran, dikatakan demikian karena suatu hadis
bersandar kepadanya . Sedangkan pengertian sanad menurut istilah ilmu hadis,
banyak ulama yang mengemukakannya, diantaranya ialah:
- As Suyuti dalam bukunya Tadrib ar Rawi, hal
41 , menulis:
الاِخْبَارُ
عَنْ طَرِيْقِ
الْمَتَنِ
“Berita tentang jalan matan”
- Mahmud at Tahhan, mengemukakan sanad adalah
:
سِلْسِلَةُ
الرِّجَالِ الْمُوْصِلَةِ
اِلىَ الْمَتْنِ
“Mata rantai para perawi hadis yang
menghubungkan sampai kepada matan hadis.”
Dalam bidang ilmu hadis sanad itu merupakan
salah satu neraca yang menimbang shahih atau dhaifnya suatu hadis. Jika para
pembawa hadis tersebut orang-orang yang cakap dan cukup persyaratan, yakni
adil, taqwa, tidak fasik, menjaga kehormatan diri, dan mempunyai daya ingat
yang kuat, sanadnya bersambung dari satu periwayat kepada periwayat lain sampai
kepada sumber berita pertama, maka hadisnya dinilai shahih. Begitupun
sebaliknya, andaikan salah seorang dalam sanad ada yang fasik atau yang
tertuduh dusta atau setiap para pembawa berita dalam mata rantai sanad tidak
bertemu langsung (muttashil), maka hadis tersebut dhaif sehingga tidak bisa
dijadikan hujjah.
2. Contoh Sanad
حدثنا
عبد الله
بن يوسف
قا ل
أخبرنا مالك
عن ابن
شهاب عن
محمد بن
جبير بن
مطعم عن
أبيه قال
: سمعت
رسول الله
صلى الله
عليه قرأ
فى المغرب
الطور. (رواه
البخاري)
Artinya:
“memberitakan kepada kami Abdullah bin Yusuf
ia berkata; memberitakan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin
Jubair bin Muth’im dari ayahnya berkata: “aku mendengar Rasulallah SAW membaca
surah Ath-Thur pada salat maghrib.” (HR. Al-Bukhori)
Dari contoh hadis di atas jika diteliti, maka
yang dimaksud dengan sanad adalah dimulai dari haddatsana Abdullah bin Yusuf
hingga pada lafadz ‘An biihi qaala, yang menyambungkan kepada Rasulullah SAW.
Agar lebih jelas berikut ini diterangkan dalam bentuk denah periwayatan hadits
di atas .
B. Matan
1. Pengertian
Kata matan menurut bahasa berarti ما
ارتفع وصلب
من الارض
yang
berarti tanah yang tinggi dan keras,namun ada pula yang mengartikan kata matan
dengan arti kekerasan, kekuatan, kesangatan. sedangkan arti matan menurut
istilah ada banyak pendapat yang dikemukakan para ahli dibidangnya,
diantaranya:
- Menurut Muhammad At Tahhan
ما
ينتهى اليه
السند من
الكلام
“suatu kalimat tempat berakhirnya sanad”
- Menurut Ath Thibbi
الفاظ
الحديث التى
تتقوم بها
معاني
“lafadz hadis yang dengan lafadz itu terbentuk
makna”
Jadi pada dasarnya sanad itu ialah berupa isi
pokok dari sebuah hadis, baik itu berupa perkataan Nabi atau perkataan seorang
sahabat tentang Nabi. Posisi matan dalam sebuah hadis amatlah penting karna
dari matan hadis tersebutlah adanya berita dari Nabi atau berita dari sahabat
tentang Nabi baik itu tentang syariat atau pun yang lainnya,
2. Contoh matan
عن
أم المؤمنين
عا ئشة
رضى الله
عنها قالت
: قال رسول
الله , من
أحدث فى
أمرنا هذا
ما ليس
منه فهو
رد. (رواه
متفق عليه)
“warta dari Ummu Al Mukminin, ‘Aisyah ra.,
ujarnya: ‘Rasulullah SAW telah bersabda: barang siapa yang mengada-ngadakan
sesuatu yang bukan termasuk dalam urusan (agamaku), maka ia tertolak’. ” (Hr.
Bukhori dan Muslim)
Dari contoh hadist diatas yang dimaksud dengan
matan hadis ialah lafadz yang dimulai dengan من
أحدث hingga lafadz فهو
رد atau dengan kata
lain yang dimaksud dengan bagian matan dari contoh hadis di atas ialah lafadz من
أحدث فى
أمرنا هذا
ما ليس
منه فهو
رد “barang siapa yang mengada-ngadakan sesuatu yang bukan termasuk
dalam urusan (agamaku), maka ia tertolak’.”
C. Mukharrij
Kata Mukharrij merupakan bentuk Isim Fa’il
(bentuk pelaku) dari kata takhrij atau istikhraj dan ikhraj yang dalam bahasa
diartikan; menampakkan, mengeluarkan dan menarik. sedangkan menurut istilah
mukharrij ialah orang yang mengeluarkan, menyampaikan atau menuliskan kedalam
suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang
(gurunya) . Di dalam suatu hadis biasanya disebutkan pada bagian terakhir nama
dari orang yang telah mengeluarkan hadis tersebut, semisal mukharrij terakhir
yang termaksud dalam Shahih Bukhari atau dalam Sahih Muslim, ialah imam Bukhari
atau imam Muslim dan begitu seterusnya.
Seperti pada contoh hadis yang pertama, pada
bagian paling akhir hadis tersebut disebutkan nama Al-Bukhari (رواه
البخاري)
yang menunjukkan bahwa beliaulah yang telah mengeluarkan hadis tersebut dan
termaktub dalam kitabnya yaitu Shahih Al-Bukhari. Begitu juga dengan contoh
hadis kedua yang telah mengeluarkan hadis tersebut ialah Imam Al-Bukhari dan
Imam Muslim.
D. Tabaqat al-Ruwwat
Secara bahasa kata tabaqat diartikan; kaum
yang serupa atau sebaya. Sedangkan menurut istilah tabaqat ialah ;
قوم
تقاربوا في
السن والاسناد
أوفي الا
سناد
“Kaum yang berdekatan atau sebaya dalam usia
dan dalam isnad atau dalam isnad saja”
Tabaqat adalah kelompok beberapa orang yang
hidup dalam satu generasi atau satu masa dan dalam periwayatan atau isnad yang
sama atau sama dalam periwayatan saja.menurut Ibnu Hajar Al-Asaqalani, Tabaqat
Al Ruwwah sejak masa sahabat sampai pada akhir periwayatan ada 12 tabaqat yaitu
sebagai berikut:
a. Sahabat dengan berbagai tingkatannya.
b. Tabi’in senior seperti Sa’id bin
Al-Musayyab
c. Tabi’in pertengahan seperti Al-Hasan dan Ibnu
Sirin
d. Tabi’in dekat pertengahan seperti Az-Zuhri
dan Qatadah
e. Tabi’in yunior seperti Al-A’masy
f. Tabi’in yunior tetapi tidak bertemu seorang
sahabat seperti Ibnu Juraij
g. Tabi’i Tabi’in senior seperti Malik bin
Anas dan Sufyan Ats-Tsauri
h. Tabi’i Tabi’in pertengahan seperti Ibnu
Uyaynah dan Ibnu Ulayyah
i. Tabi’i Tabi’in yunior seperti Abu Dawud
Ath-Thayalisi dan Asy-Syafi’i
j. Murid Tabi’i Tabi’in senior seperti Ahmad
bin Hambal
k. Murid Tabi’i Tabi’in pertengahan seperti
Adz-Dzuhali dan Al-Bukhori
l. Murid Tabi’i Tabi’in yunior seperti
At-Tirmidzi
Di antara faedah mengetahui tabaqat al-ruwwah
ini adalah menghindarkan kesamaan antara dua nama atau beberapa nama yang sama
atau hampir sama. Selain itu faedahnya juga yaitu untuk mengetahui ke-muttashil-an
atau ke-mursal-an suatu hadis. Sebab suatu hadis tidak dapat ditentukan sebagai
hadis muttasil atau mursal, kalau tidak mengetahui apakah tabi’in yang
meriwayatkan hadis dari seorang sahabat itu hidup segenerasi atau tidak. untuk
memudahkan pemahaman tentang tabaqat al-ruwwah berikut ini akan dipaparkan
denah thabaqat al-ruwwah menurut Al-Atsqalani:
E. Hadis ‘Ali dan Nazil
1. Pengertian
Dari segi bahasa ‘Ali ialah bentuk isim fa’il
dari kata العلو = sesuatu yang tinggi , antonym dari lafadz النزول = rendah dan turun. An-Nazil berasal dari kata An-Nuzul. Tinggi
dan rendah dapat berlaku pada suatu tempat atau pada status dan kedudukan. Sedangkan
pengertian hadits ‘Ali menurut para ahli hadis ialah;
ما
قل عدد
رواته الى
الرسول صلى
الله عليه
وسلم بالنسبة
لسند اخر
“suatu hadis yang sedikit jumlah para
perawinya sampai kepada Rasulallah SAW. Dibandingkan dengan sanad lain”
Sedangkan pengertian hadis Nazil menurut ahli
hadis ialah;
ما
كثر عدد
رواته الى
الرسول صلى
الله عليه
وسلم بالنسبة
لسند اخر
“suatu hadis yang banyak jumlah para perawinya
sampai kepada Rasulallah SAW. Dibandingkan dengan sanad lain”
Dari pengertian diatas jelaslah bahwa yang dimaksud
dengan hadis ‘Ali ialah hadis yang jumlah perawinya lebih sedikit, sedangkan
yang dimaksud dengan hadis Nazil ialah hadis yang jumlah periwayatnya lebih
banyak. Misalnya sanad suatu hadis mencapai 9 orang sementara sanad hadis
lainnya hanya 7 atau 5 orang, tentu yang sanadnya hanya 7 atau 5 itu yang
disebut dengan hadis ‘Ali dan hadis yang sanadanya mencapai 9 orang yang
disebut dengan hadis Nazil.
2. Macam-Macam Hadis ‘Ali
Hadis ‘Ali dibagi menjadi dua macam yaitu
sebagai berikut:
a. ‘Ali mutlak, yaitu hadis yang lebih dekat
para perawinya dalam sanad dengan Rasulullah karena lebih sedikit jumlahnya
dibandingkan dengan sanad lain pada hadis yang sama. ‘Ali mutlak ini yang
paling tinggi diantara macam-macam ‘Ali apabila memiliki sanad yang shahih.
b. ‘Ali Nisbi, yaitu hadis yang dekat atau
sedikit jumlah perawinya dalam sanad dengan sesuatu tertentu:
1) Dekat dengna salah seorang Imam Hadis.
2) Dekat dengan salah seorang pengarang kitab
induk hadis yang dapat dipedomani. Dalam hal ini ada beberapa macam:
a) Muwafaqah, yaitu jika melalui sanad Syaikh
(guru) salah seorang penghimpun hadis kedalam kitab hadis lebih dekat atau
lebih sedikit dari pada melalui sanad penghimpun tersebut.
b) Badal, yaitu jika melalui sanad Syaikhnya
Syaikh (gurunya guru) salah seorang penghimpun kitab hadis lebih dekat atau
lebih sedikit dari pada melalui sanad penghimpun tersebut.
c) Musawah, yaitu adanya persamaan jumlah
isnad dari seorang perawi sampai akhir dengan isnad salah seorang penghimpun
hadis ke dalam buku hadis.
d) Mushafahah, yaitu persamaan jumlah para
perawi dalam sanad dari seorang perawi sampai akhir dengan isnad murid salah
seorang penghimpun kitab hadis. Dinamakan mushafahah karena pada umumnya kedua
belah pihak antara perawi sebuah hadis dengan murid salah seorang penghimpun
hadis tersebut berjabat tangan.
3) ‘Ali karena sebagian perawi meninggal
terlebih dahulu. Terkadang didapatkan dua isnad yang sama jumlah para perawi
dalam sanad, tetapi salah satu sanad terdapat sebagian perawi yang meninggal
terlebih dahulu maka ia di hukumi ‘Ali.
4) ‘Ali karena lebih dahulu mendengar.
Misalnya dua orang perawi sama-sama mendengar suuatu hadis dari seorang Syaikh.
Tetapi salah satunya telah mendengar sejak 60 tahun yang lalu sementara perawi
yang satu lagi telah mendengar sejak 40 tahun yang lalu, jumlah perawi dalam
sanad sama. Sanad pertama ‘Ali karena lebih dahulu mendengar.
3. Macam-Macam Nazil
Hadis Nazil dibagi menjadi beberapa macam
yaitu sebagai berikut:
a. Sanad yang bilangan rawinya banyak sampai
kepada Nabi.
b. Sanad yang bilangan rawinya banyak sampai
kepada salah seorang Imam Hadis
c. Sanad yang bilangan rawinya banyak sampai
kepada satu kitab hadis yang teranggap
d. Sanad yang di dalamnya ada rawi yang
menerima dari seorang Syaikh yang kemudian meninggal, juga dari rawi lain yang
menerima dari Syaikh itu.
e. Sanad yang di dalamnya ada rawi yang
mendengar dari seorang Syaikh, kemudian (belakangan) rawi itu menerima dari
rawi lain yang juga mendengar dari Syaikh itu.
Mayoritas ulama menilai hadis ‘Ali lebih utama
dari pada hadis Nazil, karena ia lebih jauh dari kemungkinan-kemungkinan cacat.
Tujuan ulama mutaqaddimin mengetahui Isnad ‘Ali yang dekat dengan Rasulullah,
karena sangat dimungkinkan sedikit kesalahan dibandingkan yang Nazil.
4. Contoh Hadis
لا
يؤمن أحدكم
حتى أكون
أحب إليه
من نفسه
ووالده وولده
والناس أجمعين
F. Riwayah Al-Kabir ‘An Ash-Shaghir
Yang dimaksud dengan Riwayah al-kabir ‘an
ash-shaghir, ialah periwayatan hadis dari seorang rawi yang lebih tua usianya
atau lebih banyak ilmunya dari rawi yang lebih rendah usianya atau yang lebih
sedikit ilmunya yang diperoleh dari seorang guru

No comments
Post a Comment