A.
Pendahuluan
Artikel ini saya tulis sebagai tugas
mandiri dengan materi pembahasan penjelasan Al-Quran tentang penciptaan alam
semesta. Ini merupakan pembahasan yang panjang dan membutuhkan beragam cabang
keilmuan, maka untuk membatasinya penulis hanya akan membahas tentang teori
penciptaan alam semesta yaitu Big Bang atau Dentuman Besar dimana teori ini
adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasa lalam semesta
dan sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Al-Quran.
B. Asal-UsulPenciptaanAlamSemesta
Berdasarkan Perspektif Al-Qur’an
Penciptaan menurut kamus besar
Bahasa Indonesia berarti proses, cara, perbuatan menciptakan.Para ilmuwan
diseluruh dunia saat ini telah sepakat bahwa alam semesta ini terjadi
dari tiada secara kebetulan dan menimbulkan dentuman besar. Ke-tiada-an
(berasal dari tidak ada) adalah menunjukan akan adanya penciptaan (diciptakan).
Selama satu abad terakhir,
serangkaian percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan
menggunakan teknologi mutakhir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa alam
semesta memiliki permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta
berada dalam keadaan yang terus mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan
bahwa, karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur
dalam waktu, alam semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah
titik tunggal. Sungguh, kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini
adalah alam semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut
“Dentuman Besar” atau Big Bang.
Adapun ayat-ayat yang menjelaskan
bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan alam semesta adalah :
[1] Q.S. Al-Sajdah :4
اللَّهُالَّذِيخَلَقَالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَوَمَابَيْنَهُمَافِيسِتَّةِأَيَّامٍثُمَّاسْتَوَىعَلَىالْعَرْشِمَالَكُمْمِنْدُونِهِمِنْوَلِيٍّوَلَاشَفِيعٍأَفَلَاتَتَذَكَّرُونَ
Artinya: “Allah-lah yang telah
menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam
hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki seorang
penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak
memperhatikannya ?”(Q.S. Al-Sajdah [32] :4 )
Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan
yang telah menurunkan Alquran kepada Muhammad saw itu adalah Tuhan Pencipta
langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa.
Yang dimaksud dengan enam masa dalam ayat ini bukanlah hari (masa) yang dikenal
seperti sekarang ini, tetapi adalah hari sebelum adanya langit dan bumi. Hari
pada waktu sekarang ini adalah setelah adanya langit dan bumi serta telah
adanya peredaran bumi mengelilingi matahari dan sebagainya.
Setelah Allah menciptakan langit dan
bumi, maka Dia pun bersemayam di atas Arasy, sesuai dengan kekuasaan dan
kebesaran-Nya.Allah SWT menegaskan bahwa tidak seorangpun yang dapat mengurus
segala urusannya, menolak bahaya, malapetaka dan siksa. Dan tidak seorangpun
yang dapat memberi syafaat ketika azab menimpanya, kecuali Allah semata, karena
Dialah Yang Maha Kuasa menentukan segala sesuatu.Kemudian Allah SWT
memperingatkan: “Apakah kamu hai manusia tidak dapat mengambil pelajaran dan
memikirkan apa yang selalu kamu lihat itu? Kenapa kamu masih juga menyembah
selain Allah?(Sumber: Tafsir Depag)
[2] Q.S. Al-Kahfi :51
مَاأَشْهَدْتُهُمْخَلْقَالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِوَلَاخَلْقَأَنْفُسِهِمْوَمَاكُنْتُمُتَّخِذَالْمُضِلِّينَعَضُدًا
Artinya: “aku tidak menghadirkan
mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi
dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah aku mengambil
orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”(Q.S. Al-Kahfi [18]
:51 )
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan
kekuasaan-Nya, dan bahwa setan itu tidak berhak untuk menjadi pembimbing atau
pelindung bagi manusia. Setan itu tidak mempunyai hak sebagai pelindung, tidak
hanya disebabkan kejadiannya dari lidah api saja tetapi juga karena mereka
tidak mempunyai saham dalam menciptakan langit dan bumi ini. Allah SWT
menegaskan bahwa iblis dan setan-setan itu tidak dihadirkan untuk menyaksikan
penciptaan langit dan bumi ini, di kala Allah menciptakannya, bahkan tidak pula
penciptaan dari mereka sendiri, dan tidak pula sebagian mereka menyaksikan
penciptaan sebagian yang lain. Bilamana mereka tidak hadir dalam penciptaan itu,
bagaimana mungkin mereka memberikan pertolongan dalam penciptaan tersebut.
Patutkah setan-setan itu dengan
keadaan demikian dijadikan sekutu Allah? Allah SWT dalam menciptakan langit dan
bumi ini tidak pernah sama sekali menjadikan setan-setan, berhala-berhala,
sembahan-sembahan lainnya sebagai penolong, hanya Dia sendirilah yang
menciptakan alam semesta ini, tanpa pertolongan siapapun. Bilamana setan-setan
itu dan berhala-berhala itu tidak ikut serta dalam menciptakan itu tentulah
mereka tidak patut dijadikan sekutu Allah dalam peribadatan seseorang hamba
Nya. Sebab orang yang ikut disembah yang ikut pula dalam penciptaan bumi dan
langit ini. Sekutu dalam penciptaan, sekutu pula dalam menerima ibadah. Dan
sebaliknya tidak bersekutu dalam penciptaan, tidak bersekutu pula dalam
menerima ibadah. (Sumber: Tafsir Depag)
[3] Q.S. Al-Baqarah: 29
هُوَالَّذِيخَلَقَلَكُمْمَافِيالْأَرْضِجَمِيعًاثُمَّاسْتَوَىإِلَىالسَّمَاءِفَسَوَّاهُنَّسَبْعَسَمَاوَاتٍوَهُوَبِكُلِّشَيْءٍعَلِيمٌ
Artinya :“ Dia-lah Allah, yang
menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan)
langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala
sesuatu.”(Q.S. Al-Baqarah [2] :29 )
(Dia-lah Allah,
yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu); sebagai kemuliaan dari-Nya
dan nikmat bagi manusia serta perbekalan hidup dan kemanfaatan untuk waktu
tertentu. (dan Dia berkehendak [menciptakan] langit); lafazh “Tsummas tawa:
(artinya): ‘dan Dia berkehendak (menciptakan)’ ”, mashdar/kata bendanya adalah
istiwa’. Jadi, al-Istiwa’ artinya meninggi dan naik keatas sesuatu sebagaimana
makna firman Allah Ta’ala (dalam ayat yang lain-red): “Apabila kamu dan
orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu…”.
(QSAl-Mu’minun/23:28). (lalu dijadikan-Nya); meluruskan (menyempurnakan)
penciptaannya (langit) sehingga tidak bengkok (tidak ada cacat didalamnya-red)
[Zub]. (tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu); meskipun
demikian Ilmu-Nya mencakup segala sesuatu, Maha Suci Dia Yang tiada ilah dan Rabb
(Yang berhak disembah) selain-Nya. (Sumber: Tafsir Depag).
Dari ketiga ayat di atas ini
menunjukan bahwa Allah SWT lah dengan segala ke maha kuasaan-Nya yang
telah menciptakan alam semesta, tanpa ada campur tangan dari siapapun. Ketiga
ayat di atas pun sekaligus menentang pada pernyataan para philosof materalis
yang mengatakan bahwa “alam semesta ini telah ada sejak dulu tanpa ada
perubahan apapun dan akan tetap menjadi seperti ini sampai akhir nanti.” (HarunYahya).
C. Teori Pembentukan Alam Semesta
1. Teori Big
Bang
Big Bang merupakan model penciptaan
alam semesta yang menerangkan bahwa alam semesta telah “diciptakan dari
ketiadaan.” Edwin Hubble (1929) memulai penelitian di observatorium
Mount Wilson California, Amerika. Dia membuat salah satu penemuan terbesar
di sepanjang sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan
teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai
dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini “bergerak menjauhi”
kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari
sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu,
sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah.
Sebelumnya, Hubble telah membuat
penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita,
tapi juga menjauhi satu sama lain.Dari sini dapat disimpulkan dari suatu alam
semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama lain adalah bahwa
ia terus-menerus “mengembang”.
Adapun arti mengembang, maka
ini menunjukan bahwa pada awalnya ia berasal dari satu titik
tunggal. Perhitungan menunjukkan bahwa “titik tunggal” ini yang berisi
semua materi alam semesta haruslah memiliki “‘volume nol”, dan “kepadatan tak
hingga”. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume
nol ini.dan ledakan inilah yang disebut dengan Big Bang.
Teori Big Bang menunjukkan, semua benda di alam
semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini
diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan
raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan cara
pemisahan satudari yang lain.
1. Fase-Fase
Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Quran
Kamus Besar Bahasa Indonesia
mendefinisikan kata ‘fase’ adalah tingkatan masa (perubahan, perkembangan,
dsb)[1]. Sehingga dapat disimpulkan perkembangan ataupun perubahan tahap-tahap
penciptaan alam semesta dalam hal ini ditinjau dari al-Qur’an dan tidak lupa
juga menyertakan penjelasan di dalam Hadits. Akan tetapi, menyusun tahapan
penciptaan alam semesta di dalam a-Qur’an bukan perkara yang mudah – disamping
minimnya referensi terutama asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) ataupun
penjelasan dari hadits berkaitan dengan fase-fase penciptaan diperparah dengan
kemunculan cerita-cerita dari Israiliyat dan hadits yang dlaif maupun maudlu
(palsu).
Sebab, dari segi susunan ayat yang
menerangkan tahapan penciptaan di dalam al-Qur’an seolah mengalir seperti
firman Allah di dalam surat Fushilat ayat 9-12. Tidak seperti puzzle yang
memang harus disusun sehingga membentuk satuan gambar yang utuh bisa dikenali.
Namun, jika disusun seperti puzzle yang pernah kita mainkan maka akan membentuk
sebuah gambaran penciptaan alam semesta yang saat ini dunia akui keabsahannya
dari berbagai rangkaian eksperimen dan bukti yang otentik.
2. Enam Masa
Penciptaan Alam Semesta
Al-Qur’an menyebutkan dalam sittati
ayyaamin yang berarti enam masa yang panjang.
Sebagaimana dalam al-qur’an (Q.S.
Al-Sajdah [32] :4 ):
اللَّهُالَّذِيخَلَقَالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَوَمَابَيْنَهُمَافِيسِتَّةِأَيَّامٍثُمَّاسْتَوَىعَلَىالْعَرْشِمَالَكُمْمِنْدُونِهِمِنْوَلِيٍّوَلَاشَفِيعٍأَفَلَاتَتَذَكَّرُونَ
Artinya : “Allah-lah yang telah
menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu
enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy.Kamu semua tidak memiliki
seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu
tidak memperhatikannya ?”
Dari ayat di atas Allah SWT
menyebutkan penciptaan langit dan bumi dalam enam masa (sittati ayyaamin)
selanjutnya para mufasir bersepakat dalam menafsirkan ayat ini, bahwa yang
disebut dengan (sittati ayyaamin) adalah enam tahapan atau proses bukan
enam hari sebagaimana mengartikan kata ayyaamin.
Adapun kronologis penciptaan dalam Al-Qur’an adalah :
a. Fase Pertama
َوَلَمْيَرَالَّذِينَكَفَرُواأَنَّالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَكَانَتَارَتْقًافَفَتَقْنَاهُمَاوَجَعَلْنَامِنَالْمَاءِكُلَّشَيْءٍحَيٍّأَفَلَايُؤْمِنُون
Artinya: “Dan apakah
orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya
dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(Q.S.
AlAnbiya [21] :30)
Ini dimulai dengan sebuah ldakan
besar (bigbang) sekitar 12-20 miliar tahun lalu.Inilah awal terciptanya materi,
energy, dan waktu. “Ledakan” pada hakikatnya adalah pengembangan ruang.Materi
yang mula-mula terbentuk adalah hydrogen yang menjadi bahan dasar bagi
bintang-bintang generasi pertama.Hasi fusi nuklir antara inti-inti hydrogen,
meghasilkan unsure-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi
atau disebut juga Nukleosintesis Big Bang.
Nukleosintesis
Big Bang terjadi
pada tiga menit pertama penciptaan alam semesta dan bertanggung jawab atas
banyak perbandingan kelimpahan 1H (protium), 2H (deuterium), 3He (helium-3), dan 4He (helium-4), di alam semesta.Meskipun 4He
terus saja dihasilkan oleh mekanisme lainnya (seperti fusi bintang dan
peluruhan alfa) dan jumlah jejak 1H terus saja dihasilkan
oleh spalasi dan jenis-jenis khusus peluruhan radioaktif (pelepasan proton dan pelepasan neutron), sebagian besar massa
isotop-isotop ini di alam semesta, dan semua kecuali jejak-jejak yang tidak
signifikan dari 3He dan deuterium di alam semesta yang
dihasilkan oleh proses langka seperti peluruhan kluster, dianggap dihasilkan di dalam
proses Big
Bang. Inti atom
unsur-unsur ini, bersama-sama 7Li, dan 7Be
diyakini terbentuk ketika alam semesta berumur 100 sampai 300 detik, setelah
plasma kuark–gluon primordial membeku untuk membentuk proton dan neutron. Karena periode nukleosintesis Big
Bang sangat singkat sebelum terhentikan oleh pengembangan dan pendinginan,
tidak ada unsur yang lebih berat daripada litium yang dapat dibentuk.(Unsur-unsur terbentuk pada
waktu ini adalah dalam keadaan plasma, dan tidak mendingin ke keadaan atom-atom
netralhinggawaktu lama).
b. FaseKedua
هُوَالَّذِيخَلَقَلَكُمْمَافِيالْأَرْضِجَمِيعًاثُمَّاسْتَوَىإِلَىالسَّمَاءِفَسَوَّاهُنَّسَبْعَسَمَاوَاتٍوَهُوَبِكُلِّشَيْءٍعَلِيمٌ
Artinya : “Dia-lah Allah,
yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui
segala sesuatu” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 29)
Masa ini adalah pembentukan langit.
Pengetahuan saat ini menunjukan bahwa langit biru hanyalah disebabkan hamburan
cahaya matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Di luar atmosfer langit biru
tak ada lagi, yang ada hanyalah titik cahaya bintang , galaxy, dan benda-benda
langit lainnya. Jadi, langit bukanlah hanya kubah biru yang ada di atas sana,
melainkan keseluruhan yang ada di atas sana (bintang-bintang, galaxy, dan
benda-benda langit lainnya), maka itulah hakikat langit yang sesungguhnya.
Adapun dalam fase ini, pembentukan bintang-bintang di dalam galaxy yang masih
berlangsung hingga saat ini.
c. Fase Ketiga
Pada masa ini dalam penciptaan alam
semesta adalah proses penciptaan tata surya, termasuk bumi. Selain itu
pada masa ini juga terjadi proses pembentukan matahari sekitar 4,6 miliar tahun
lalu dan mulai di pancarkannya cahaya dan angin matahari. Proto-bumi (bayi
bumi) yang telah terbentuk terus berotasi menghasilkan fenomena siang dan malam
di bumi sebagaimana yang Allah SWT firmankan dengan indah :
وَأَغْطَشَلَيْلَهَاوَأَخْرَجَضُحَاهَا
Artinya : “dan Dia
menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.” Q.S
An-Nazi’at [79] : 29
d. FaseKeempat
Bumi yang terbentuk dari debu-debu
antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan
pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsure-unsur radioaktif di
bawah kulit bumi.
Akibat pemanasan endogenik itu
materi di bawahkulit bumi menjadi lebu,antara lain muncul sebagai lava dari
gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang
menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan
tersebut. Pemadatan kulit bumiyang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang
tampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” .sebagaimana Allah SWT berfirman :
وَالْأَرْضَبَعْدَذَلِكَدَحَاهَا
Artinya :“dan bumi sesudah itu
dihamparkan-Nya.”(Q.S. an-Naziat [79] :30)
e. FaseKelima
Hadirnya air dan atmosfer di bumi
menjadi prasyarat terciptanya kehidupan di bumi. Sebagaimana firmanAllah SWT :
…وَجَعَلْنَامِنَالْمَاءِكُلَّشَيْءٍحَيٍّأَفَلَايُؤْمِنُونَ
Artinya :“…dan dari air Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup… “ (Q.S. al-anbiya [21] : 30
Selain itu, pemanasan matahari
menimbulkan fenomena cuaca dibumi, yakni awan dan halilintar. Melimpahnya air
laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya akan gas metan (CH4)dan ammonia (NH3)
serta sama sekali tidak mengandung oksigenbebas dengan bantuan energy listrik
dan halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organic.Senyawa
organic yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan
diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 miliar tahun lalu
berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Sebagaimana dikembalikan pada
surat Al Anbiya [21] ayat 30 yang telah menyebutkan bahwasannya semua makhluk
hidup berasal dari air.
f. Fase Keenam
Masa keenam dalam proses penciptaan
ala mini adalah dengan lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk
bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan.Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis
sekitar 2 miliar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen
bebas. Pada masa ini pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempengan
tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.
Setelah mengkaji cara Al-Quran
menjelaskan tentang penciptaan alam semesta. Penulis menyadari bahwa ilmu
pengetahuan dan Al-Qur’an adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa
dipisahkan antara satu sama lainnya. Seperti yang penulis kutip dari seorang
ilmuan besar Albert Einsten: ”religion without science is blind and science
without religion is damage.” (Albert Einstein, 1960)
Ilmu yang tidak disertai dengan
agama akan hancur dan tumbang karena tidak adanya kekuatan iman. Sedangkan
agama tanpa ilmu akan menjadi rusak karena akan dapat salah mengartikannya.
Sebagaimana orang-orang materalis yang selalu menentang akan adanya penciptaan
alam semesta. Ini merupakan contoh yang sangat
signifikan jika ilmu pengetahuan tidak disertai dengan ajaran-ajaran
agama.
Untuk itu penulis dapat menyimpulkan bahwa :
[1] Kebenaran Al-Qur’an akan selalu terbukti sampai
kapanpun.
[2] Alam semesta berasal dari ketiadaan dan kemudian
menjadi ada, ( terjadi proses penciptaan) oleh Allah SWT
[3] Penciptaan alam semesta terjadi secara berproses
(berkembang) sebagaimana yang telah Al-Qur’an jelaskan dan tidak
statis (tetap).
[4] Al-Qur’an lebih dahulu menceritakan tentang
proses penciptaan alam semesta jauh sebelum ilmu pengetahuan mencapainya
(sekitar abad 6) dan kini kebenaran
Al-qur’anitusudahdapatdibuktikankebenarannyadenganadanyakecocokandalamsains
(abad-20).
A.
AsalUsulAlamSemesta
Asal
usul alam semesta telah lama
diperbincangkan. Banyak teori bermunculan dari hasil pemikiran dan penelitian
para ahli yang mencoba mengungkap misteri besar ini. Namun hingga sekarang,
karena keterbatasan daya dan akal manusia, teori-teori tersebut hanyalah
sebatas menjadi teori belaka, karena kebenaran yang pasti hanya berasal
dari tuhan. Kendati begitu, tidak ada salahnya bagi kita menilik teori asal
usul alam semesta yang dirangkum sebagai berikut:
1. Teori keadaan tetap (Steady-state theory)
Teori keadaan tetap didasari pada prinsip
kosmologi sempurna. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta ada tanpa awal dan
tetap ada tanpa akhir. Hal tersebut didasari oleh kenyataan bahwa setiap
galaksi memiliki jumlah yang tetap sama meski ada pada kurun waktu yang
berbeda. Dalam teori ini tidak dikenal istilah penciptaan ataupun kiamat. Alam
semesta ada dan akan tetap ada.
Teori asal usul alam semesta ini sebetulnya
merupakan teori yang paling jadul. Dan dikemukakan pada saat teknologi belum
canggih seperti sekarang ini. Sekarang, teori keadaan tetap sudah tidak lagi
dipercayai oleh kebanyakan orang kecuali mereka yang tidak beragama (atheis).
2. Teori
dentuman besar (big-bang theory)
Hipotesis
teori dentuman besar (Big-Bang) dikemukakan pertama kali oleh George
Lematitre. Teori ini menyebutkan bahwa asal usul alam semesta
dimulai dari sebuah primeval atom atau atom yang sangat padat. Suatu saat
karena terlalu padat dan memiliki energi kalor yang tinggi, atom ini meledak
hingga semua materinya terlempar ke seluruh penjuru ruang hampa yang ada di
sekitarnya.
Sejak
ledakan itu, semua partikel ledakan atom tersebut (planet, asteroid, meteorid,
dll.) berekspansi hingga ribuan juta tahun. Dari ekspansi tersebut timbulah dua
gaya yang saling berlawanan yaitu gaya gravitasi dan gaya repulsi kosmis. Teori
ini menyebutkan bahwa suatu waktu, ekspansi tersebut pasti akan berhenti.
Berarti secara umum teori ini berlawanan dengan teori keadaan tetap karena
mengenal penciptaan dan kiamat.
3. Teori Nebular
3. Teori Nebular
Hipotesis teori nebular dikemukakan pertama kali oleh Laplace
pada tahun 1796. Teori ini menyebutkan bahwa tata surya terbentuk dari
kondensasi awan atau kabut gas yang sangat panas. Kondensasi itu membentuk
bagian-bagian terpisah yang terus berputar. Pada bagian tengah kondensat,
partikel memusat dan memampat sehingga terbentukklah matahari. Pada partikel
yang berada di sisi juga berputar dan membentuk planet-planet dan sisa
kondensat membentuk satelit, asteroid, meteor, dan lain sebagainya.
4. Teori
Tidal atau Teori Pasang Surut
Hipotesis teori nebular dikemukakan pertama kali oleh James
Jeans dan Harold Jeffreys di tahun 1919. Teori ini menyebutkan bahwa planet
merupakan hasil dari percikan bintang (matahari) yang disebut tidal.
Planet-planet besar terjadi karena adanya percikan besar antara 2 bintang besar
yang saling berdekatan. Peristiwa mendekatnya 2 bintang besar tentu sangat
jarang sekali terjadi, oleh karena itu selama ini percikan matahari tidak mampu
membentuk planet.
5. Teori Bintang Kembar
5. Teori Bintang Kembar
Teori bintang kembar menyebutkan bahwa alam semesta
terbentuk karena adanya dua matahari kembar. Salah satu matahari tersebut
meledak karena terlalu padat dan panas. Ledakan tersebut membentuk
planet-planet dan karena adanya gaya gravitasi, planet-planet tersebut beredar
mengelilingi bintangnya.
6. Teori
Creatio Continua
Hipotesis teori creatio continua dikemukakan pertama
kali Fred Hoyle, Bendi, dan Gold. Menurut teori ini semesta dari dahulu
ada dan tetap ada. Secara prinsip, teori ceatio continua hampir mirip dengan
teori keadaan tetap. Bedanya, pada teori ini disebutkan bahwa setiap saat ada
partikel alam semesta (baik berbentuk planet, satelit, dan lain sebagainya)
yang lenyap dan lahir.
Demikianlah beberapa teori tentang asal usul alam semesta. Percaya atau tidak, mari kita
kembalikan pada keyakinan kita masing-masing. Seperti halnya kita mempercayai teori-teori asal usul
kehidupan.

No comments
Post a Comment