A. Pengertian,
Latar Belakang dan Perkembangan Studi Wilayah
Studi wilayah (area studies) terdiri dari dua
kata, yakni area dan studi. Area mengandung arti “region of
the earth’s surfaces”,
artinya adalah: daerah permukaan bumi. area juga bermakna: luas, daerah kawasan
setempat dan bidang. Sedangkan studi mengandung
pengertian “devotion of time and thought to getting knowledge”, artinya adalah pemanfaatan
waktu dan pemikiran untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Studi juga
mengandung pengertian “something that attracts investigation” yakni sesuatu yang
perlu untuk dikaji.
Studies adalah bentuk jamak dari studi, kata ini menunjukkan
bahwa kajian yang dilakukan terhadap sebuah wilayah tidak hanya terbatas pada
suatu bidang kajian, melainkan terdiri dari berbagai bidang. Secara terminologi
studi wilayah adalah pengkajian yang digunakan untuk menjelaskan hasil dari
sebuah penelitian tentang suatu masalah menurut wilayah dimana masalah tersebut
terjadi.
Setelah nabi Muhammad saw. wafat, dominasi Islam atas Jazirah Arab sudah
sedemikian luas. Hal itu merupakan permulaan dari pencapaian peradaban Islam.
Rencana penaklukkan yang direncakanan nabi Muhammad saw. dianggap merupakan
wasiat yang harus dijalankan oleh para sahabat, maka adalah hal yang wajar bila
ekspansi ini terus dijalankan oleh para sahabat sepeninggal beliau. Dalam waktu
yang relatif singkat, yakni pada masa pemerintahan Abu Bakar ra. dan Umar ra.
wilayah Islam sudah mencapai Yaman, Oman, Bahrain, Iraq bagian Selatan, Persia,
Syiria, Pantai Laut Tengah dan Mesir. Perluasan wilayah ini kemudia dilanjutkan
oleh Utsman ra. hingga ke Sijistan, Khurasan, Azzerbijan, dan Armenia.
Pada perkembangan berikutnya, tekanan Islam terhadap daerah-daerah Barat
semakin intens. Sebuah peristiwa penting terjadi pada 751 dimana pasukan muslim
berhasil menaklukkan semenanjung Iberia, Sisilia, dan Andalusia, bahkan
penaklukkan tersebut berlanjut hingga Pyneress menuju daerah Prancis Selatan.
Pasukan yang menaklukkan Andalusia didominasi oleh kaum muslimin, sehingga
kekuatan muslimpun disadari oleh penganut agama Kristen yang berada di wilayah
Barat.
Pada tahun 1236 M, kekuatan gabungan gereja Spanyol mengambil alih kembali
Cordova dan disusul dengan Sevilla pada tahun 1248 M. Granada dibawah kekuasaan
Bani Ahmar dapat bertahan kurang lebih dua abad lamanya sebelum akhirnya juga
jatuh.
Sejak saat itu, serangan kaum Kristen untuk menaklukkan wilayah yang dikuasai
oleh kaum muslimin semakin gencar. Dengan dilatar belakangi berbagai tujuan,
mereka melakukan pelayaran-pelayaran ke berbagai belahan dunia untuk memperluas
kekuasaan mereka.
Serangkaian penaklukkan yang terjadi tidak hanya bertujuan, baik sengaja
ataupun tidak, untuk menguasai wilayah dan aspek-aspek material saja, akan
tetapi juga, serangkaian penaklukkan ini dibarengi dengan imperialisme kultural.
Melaluai ekspansi politik dan kultural terhadao wilayah-wilayah Islam, maka
kajian wilayah menjadi sebuah usaha yang terus digalakkan untuk memahami agama
Islam.
B.
Pengertian, Asal dan Perkembangan Orientalisme
Secara Etimologi Orientalisme berasal dari bahasa
latin orient yang artinya digunakan dalam bahasa Perancis menjadi Orienter yang
bermakna menunjukkan atau mengarahkan dan dalam bahasa Jerman menjadi sich
orientiern yang bermaksud mengumpulkan maklumat dan pengetahuan.
Secara Terminologi ,orientalisme adalah suatu istilah yang artinya mengetahui
segala sesuatu yang berhubungan dengan bangsa timur. Kata Orientalisme ini
digunakan bagi setiap cendikiawan Barat yang bekerja untuk mempelajari masalah
ketimuran ,baik dalam bidang bahasa,etika,peradaban dan agamanya.
Kata Orient ini berubah menjadi orientalisme di dunia eropa sebagai studi
kajian tentang dunia Timur. Menurut Al Berry salah satu anggota gereja
Yunani bahwa istilah orientalisme ini muncul pada tahun 1638 M. Kemudian pada
tahun 1691 Antony Wood dan Samuel Clark mengistilahkan orientalisme sebagai
pengetahuan tentang ketimuran. Kemudian istilah ini muncul di Perancis dengan
nama orienter pada tahun 1779 M, diikuti di Inggris menjadi orientalisme
pada tahun 1838 M, sehingga istilah orientalisme ini menjadi istilah yang mapan
dan berkembang di dunia Eropa-Barat pada abad ke-18 M.
Kata “isme” menunjukkan kepada suatu faham, ajaran, cita-cita dan sikap.
Jadi orientalisme adalah suatu faham atau aliran yang berkeinginan untuk
menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa di Timur dan yang
berkaitan dengannya.
Sementara menurut Edward Said, orientalisme memiliki pengertian yang berbeda
sesuai dengan fase-fase perkembangan yang diuraikan dalam bukunya Culture and
Orientalisme.
1.
Fase pertama Edward mendefenisikan Orientalisme sebagai suatu cara untuk
memahami dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman
manusia barat-Eropa.
2.
Fase kedua Edward mendefenisikan orientalisme adalah sebagai suatu gaya
berfikir yang berdasarkan kepada perbedaan ontologis dan epistomologis yang
dibuat antara timur dan Barat.
3.
Fase ketiga Edward mendefenisikan orientalisme sesuatu yang lebih
cenderung dilihat dari segi histories dan materialnya.
4.
Fase keempat Edward menyampaikan bahwa orientalisme mengenai pengetahuan
yang ditempatkan pada segala sesuatu yang bersifat timur dalam mata pelajaran
sekolah, mahkamah, penjara atau buku-buku pegangan untuk tujuan penelitian,
pengkajian, pengadilan, pendisiplinan, atau pemerintahan atasnya.
Pertumbuhan orientalis tidak lepas dari peran para pendeta yang pada awalnya
mencoba untuk membuka jalan ke arah yang lebih luas. Mereka belajar ke
negeri-negeri Islam di belahan Timur, memperdalam ilmu pengetahuan untuk dibawa
ke negeri mereka.
Pada masa itu, mereka yang belajar ke negeri-negeri Islam disebut sebagai murid-murid
yang datang dari negeri Barat ke negara-negara Islam yang lebih maju dalam
berbagai bidang. Namun pada umumnya mereka tidak merasa senang untuk disebut
sebagai murid-murid yang belajar ke negeri timur, mereka lebih senang untuk
disebut sebagai ahli, yakni ahli ke-Timuran (orientalis).
Orang-orang Barat yang mempelajari dunia Timur dimotivasi oleh agama.
Bagaimanapun juga, perang Salib telah meninggalkan pengaruh terhadap sikap kaum
Kristen atas ummat Islam. Di sisi lain ummat Kristen juga ingin
menyebarkan agama mereka di tengah-tengah kalangan ummat Islam.
Selain motivasi agama, munculnya orientalisme juga dimotivasi oleh perdagangan
dan politik. Negeri-negeri industri memerlukan untuk pemasaran hasil
industri.
Mustafa as-Siba’i juga menyatakan bahwa ada empat motivasi khusus orientalis:
- Dorongan ke-agamaan, misalnya para pendeta Katolik Roma.
- Dorongan penjajahan, seperti Snouck Hurgronje di Indonesia.
- Dorongan politik.
- Dorongan ilmiah artinya para orientalis ini ingin mempelajari tentang hal-hal yang bersifat ke-Timuran untuk mengetahui kemajuan yang dicapai oleh bangsa-bangsa di Timur.
Kaum orientalis mempelajari apa yang mereka inginkan
dengan pikiran bebas dan terbuka. Beberapa faktor menyebabkan kesimpulan yang
mereka hasilkan jauh dari fakta yang ada. Beberapa faktor tersebut antara lain
bisa kita sebutkan sebagai berikut:
- Wilayah Timur itu terlalu luas untuk dikuasai seseorang hingga ia layak mengklaim dirinya sebagai orientalis. Secara jujur seorang ilmuan harus bisa membatasi wilayah studinya hingga objek yang ia kajipun akan benar-benar ia kuasai. Dengan faktor ini, orientalis inipun sekarang lebih banyak disebut dengan Islamicist, atau bahkan yang lebih spesifik, yakni ahli ke-Indonesiaan.
- Sumber yang tidak sepenuhnya benar yang dikaji oleh para orientalis.
- Sumber terjemahan yang tidak memadai.
- banyak dari term-term yang dipakai bahkan tidak benar. Dahulunya orang Arab diartikan oleh Orientalis sebagai orang yang menggunakan bahasa Arab dalam ritual Ibdahnya.
- Selain itu, yang pantas kita sebutkan disini adalah kecenderungan-kecenderungan awal yang mempengaruhi para peneliti.
Adapun hal-hal yang melatari perkembangan orientalis
adalah:
- Perang Salib.
- Persentuhan pemikiran wilayah Barat dan Timur, dan Islam dengan Kristen khususnya. Sejarah mencatat bahwa ada empat perguruan tertua di dunia Islam, yaitu: Nizhamiyah, al-Azhar, Qordova dan Qairawan. Perguruan ini telah lama mengundang ketertarikan pelajar dari wilayah Barat.
- Penulisan manuskrip Arab ke dalam bahasa Latin.
Penulisan ini telah berlangsung
sejak abad ke-13 M hingga munculnya Renesains di Eropa pada abad ke-14 M. hal
tersebut berawal dari restu King Fredrick II di Sisilia meski mendapat
penolakan keras dari gereja Vatikan. Kegiatan itu terus berlangsung hingga
didirikannya beberapa perguruan tinggi di semenanjung Italia, Padua, Florence,
Milano dan sebagainya.
C. Keadaan
Kontemporer
Pada faktanya, kajian-kajian orientalis telah banyak
menghasilkan kesimpulan yang dinilai menyudutkan agama Islam. Usaha mereka
dalam pengkajian ke-Islaman telah banyak menghasilkan berupa buku, memberikan
kuliah dan pelajaran di tengah kalangan ummat Islam.
Di berbagai negara Eropa, orientalis ini terus berkembang. Beberapa negara
tersebut adalah sebagai berikut:
- Prancis.
Di Institut Studi Islam di Paris
telah dilakukan pengkajian-pengkajian tentang bahasa Arab, kebudayaan, sejarah
dan beberapa bidang lainnya.
- Italia.
Negara dan bangsa Italis telah mempunyai kontak dengan
kaum muslimin sejak dahulu. Kemudian dengan usaha Vatikan, kebudayaan Arab dan
beberapa kebudayaan lainnya terus berkembang di Italia. Di Italia di kenal
sebuah perpustakaan besar yaitu perpustakaan Vatikan yang berisi buku-buku dari
kerajaan Utsmani di Turki.
Di zaman sekarang ini, kaum
orientalis, baik sengaja ataupun tidak telah mendiskriminasikan Islam. Akan
tetapi, sebuah kajian yang dilaksanakan dengan serius dan metode yang bisa
dipertanggung jawabkan layak untuk dihormati, baik karya seorang muslim ataupun
tidak. Sebagai seorang pengkaji yang jujur, hendaklah mereka tidak lantas
mengklaim bahwa kajian mereka adalah yang paling benar.
D. Dunia Islam
Sebagai Kajian Studi Wilayah
Dalam makalah ini akan dipaparkan bagaimana keadaan
studi-studi Islam di berbagai wilayah yang memang di dalamnya Islam dipegang
sebagai keperyaan mayoritas masyarakat.
- Islam di Indonesia.
Sejarah Islam di Indonesia, dinilai sangat rumit oleh
sebahagian sejarawan. Kerumitan tersebut disebabkan oleh kompleksitas di
sekitar sosok Islam itu sendiri, sebagaimana direfleksikan oleh kaum muslimin
di kawasan ini. Kerumitan lain adalah dalam menangani sumber-sumber sejarah
dengan adanya kecenderungan tertentu di kalangan sejarawan atau ilmuan sosial
yang mengkaji Islam di Indonesia, seperti yang ditegaskan oleh Roff bahwa sejak
zaman kolonial hingga saat ini terdapat hasrat yang luar biasa di kalangan
pengamat Barat secara konseptual untuk mengurangi peranan Islam dalam membentuk
kebudayaan Indonesia.
Kebudayaan itu secara dramatis dimulai oleh Snouck Hurgronje dengan memisahkan
adat lokal pada satu pihak dengan Islam pada pihak yang lain.
Tentang masuknya Islam ke Indonesia ada tiga teori:
- Teori yang menyatakan bahwa Islam langsung datang dari Arab yang dikemukakan oleh Niemann (1861) menyatakan bahwa Islam dibawah oleh orang-orang Mesir yang bermadzhab Syafi’i seperti layaknya kaum mayoritas di nusantara.
- Teori yang menyatakan bahwa Islam datang dari India yang dikemukakan oleh Pijnapel (1872) yang menyimpulkan bahwa orang-orang Arab yang bermazhab Syafi’i dari Gujarat dan Malabarlah yang membawa ajaran Islam ke Indonesia.
- Teori yang menyatakan bahwa Islamd datang ke Indonesia dari Benggali (Bangladesh). Teori ini dikembangkan oleh Fatimi. Ia mengutip keterangan dari Tome Pires yang menyatakan bahwa kebanyakan orang terkemuka di Pasai adalah orang Benggali.
Islam boleh jadi telah sampai di Indonesia sejak Abad ke-7/8 M, tetapi
untuk muncul sebagai kekuatan politik, ia memerlukan waktu hingga enam abad
sampai terbentuknya kerajaan Islam di Sumatera pada abad ke-13 M. akan tetapi
rumusan ini masih bersifat hipotetif. Belum sampai dua abad Islam tampil
sebagai kekuatan politik di Nusantara, datanglah kekuatan tandingan dari
Barat yang berupa Imperialisme yang secara berangsur, sekalipun selalu mendapat
perlawanan, ternyata berhasil mengurangi peranan Islam di nusantara.
Taufik Abdullah menyatakan bahwa
dalam proses perjalanan Islam di bumi nusantara, Islam merupakan suatu dasar
pembentukan tradisi kultural baru.
Agar Islam di masa depan tidak
menjadi “menggapai dalam ketiadaan daya” maka kajian Islam yang mendasar dan
strategis di Indonesia tidak dapat ditunda. Jika bangsa ini ingin “pembentukan
kultural baru” maka harus didapatkan sebuah landasan intelektual yang kokoh.
Dengan kata lain, kajian ke-Islaman di Indonesia, di samping mendalami ajaran
substansi ajaran, pendekatan yang berorentasi ke masa depan merupakan kebutuhan
mutlak secara iman dan akademik. Memang sejarah berurusan dengan masa lalu,
tapi masa lalu itu hendaknya dijadikan untuk kepentingan masa depan. Dengan
cara ini diharapkan bahwa Islam tidak saja menjadi agama yang didominasi oleh
ritual demi keshalehan pribadi, tetapi menjadi agama yang hidup dan
menghidupkan, agama yang mampu memecahkan persoalan-pesoalan ke-manusiaan
secara mendasar.
Tangantan besar yang menghadang di
depan bangsa Indonesia sekarang ini adalah masih sangat langkanya pakar kajian
Islam yang mampu menulis di atas landasan wawasan ke-Islaman dan ke-manusiaan
yang luas.
Selanjutnya yang terpenting adalah
bagaimana para pakar yang ada mampu memasyaratkan hasil-hasil pemikirannya yang
bernilai strategis Qurani ke tengah-tengah ummat tanpa menimbulkan
kegoncangan-kegoncangan yang tidak ada artinya.
- Islam di Timur Tengah.
Masyarakat Islam dibangun diatas
framework peradaban Timut Tengah kuno yang telah mapan sebelumnya. Masyarakat
Islam berkembang dalam sebuah lingkungan yang sejak masa awal sejarah ummat
manusia telah menampilkan dua aspek yang fundamental, yaitu asal-usul dan
struktur sejarah yang telah berlangsung
Garis keturunan keluarga,
kekerabatan, komunitas etnis terus berlanjut seperti semula sekalipun telah
terjadi kesejarahan. Ekologi regional berlangsung dengan didasarkan pada
komunitas petani dan perkotaan, dan ekonomi dijalankan diatas basis pemasaran
dan pertukaran uang. Bentuk-bentuk dasar organisasi negara, termasuk administrasi
biroratis, pola kehidupan keagamaan yang berlaku sebelumnya difokuskan kepada
keyakinan yang bersifat universal dan transendental.
Perjalanan panjang Islam di Timur
Tengah berlangsung sekitar 622 sampai 1002 M, yang berlangsung dalam tiga fase.
Fase pertama adalah fase penciptaan sebuah komunitas baru yang bercorak Islam
di Arabia sebagai hasil dari transformasi wilayah peripheral (pikiran) dengan
sebuah masyarakat kekerabatan yang telah berkembang sebelumnya menjadi sebuah
tipe monotheistik Timur Tengah.
Fase ke-dua adalah fase penaklukkan
Timur Tengah oleh masyarakat Arab Muslim yang baru terbentuk tersebut, dan
mendorong kelahiran sebuah imperium dan kebudayaan Islam (selama periode
ke-khalifahan yang pertama sampai tahun 945 M).
Fase ketiga adalah fase kesulatanan
(945-1200 M). pada fase pola dasar kultural dan institusional dari era khilafah
berubah menjadi pola-pola negara dan institusi Islam.
Dalam fase pertama, dapat difahami
bahwa fase tersebut merupakan fase kelahiran Islam pertama dalam masyarakat
ke-sukuan. Pada fase ke-dua adalah memandang Islam sebagaimana ia menjadi agama
dari sebuah negara kerjaan dan kalangan elit perkotaan. Sedangkan fase ke-tiga,
nilai-nilai Islam ternyata telah mengubah mayoritas masyarakat Timur Tengah.
Penyatuan beberapa wilayah seperti
bagian Sasania dan Bizantium di Timur Tengah menjadi sebuah pemerintahan,
beberapa halangan politis dan strategis perdagangan menjadi hilang, dan sebuah
fondasi utama untuk kebangkitan perdagangan telah terhampar.
Selanjutnya sungai Eufrat yang
membatasi antara Persia dan wilayah Bizntium telah musnah dan Transxonia untuk
pertamakalinya dalam sejarah disatukan dalam imperium Timut Tengah. Dunia
perdagangan semakin maju mengilhami ekspansi Arab ke Asia Tengah dan India, da
pengembangan kota-kota di Syiria utara, Iran, Iraq, Basra dan belakangan
Baghdad menjadi pusat perdagangan dunia
- Islam di Turki.
Pembahasan Islam di Turki akan
mewakili negara-negara lain di wilayah Timur Dekat.
- Penyebaran Bangsa Turki.
Penyebaran bangsa Turki dengan
berbagai macam elemennya meliputi wilayah yang sangat luas. Kondisi geografis
yang mereka diami saat itu secara umum menuntut pola hidup berpindah-pindah.
Stuasi semcam ini membentuk masyarkat yang bersuku-suku.
Bangsa Turki mempunyai peranan yang
sangat penting dalam perkembangan kebudayaan Islam. Peran tersebut terlihat
dalam bidang politik ketika mereka masuk dalam barisan tentara profesional
maupun dalam birokrasi pemerintahan yang bekerja untuk khalifah-khalifah Bani
Abbsiyah.
Munculnya dinasti Turki, Islam
mengalami fragmentasi kekuasaan pada periode kedua pemerintahan Abbasiyah
(sekitar abad ke-9 M).
Bangsa Turki muslim yang
pertama-tama membangun dinasti adalah Bani Saljuk mulai tampak pengaruhnya di
Baghdad sebagai pusat dunia Islam pada tahun 1038 M. kemudian selain Bani
Saljuk, dinasti Utsmaniyyah juga berkuasa (1290-1922 M).
- Islamisasi Bangsa Turki.
Adanya kontak dagang bangsa Turki yang bertempat tinggal di bagian
Selatan wilayah Asia Tengah dengan pedagang muslim Arab telah memperkenalkan
Islam kepada bangsa Turki.
Bangsa Turki yang kuat dan berkuasa dengan berbagai imperiumnya
mencerminkan tipe masyarkat muslim lainnya, seperti mewarisi pola masyarakat
Saljuk-Iran dan ia memberinya sebuah corak inovatif serta menjadikan negara
sebagai institusi yang dominan, lalu menjadikan kalangan elit keagamaan, warga
nomadik Turki di Anatolia, dan seluruh rakyat dibawah kekuasaan negara.
c.
Pemikiran
ke-Islaman di Turki.
Amin Abdullah mengatakan bahwa hingga saat sekarang ini, tidak hanya
partai politik yang berbau agama, tetapi juga organisasi-organisasi keagamaan
masih dilarang di Turki. Namun anehnya, di negara sekuler itu mereka mempunyai
“dianet isleri” (kantor urusan agama) yang bernaung dibawah menteri negara.
Dengan kondisi seperti ini, para generasi muda Turki merasa bosan dan
tidak puas, akhirnya mereka beralih menggunakan “media cetak” sebagai sarana
lalu-lintas dan penyampaian pesan kepada masyarakat.
Muncul beberapa penerbitan keagamaan yang memiliki ciri-ciri arus
pemikiran yang berbeda, seperti:
Penerbitan yang disponsori Dianet Islery yang memiliki ciri Islam
negara.
Penerbitan yang disponsori tarekat kuno.
Penerbitan yang disponsori tarekat baru.
Penerbitan yang disponsori oleh kaum fundamentalis.
E. Signifikansi dan Konstribusi
Berawal dari
pembicaraan Munawwir Sadjali dengan Fazlurrahman dan Gigma bahwa keduanya
menekankan tentang kepincangan dan ketidak lengkapan studi Islam saat ini, khususnya
di Indonesia dan Asia Tenggara. Satu sisi, banyak ahli ke-Islaman tetapi tidakl
tahu tentang Indonesia dan wilayah-wilayah lainnya, sebaliknya banyak pakar
ahli wilayah tapi tidak mengetahui tentang Islam.
Kelemahan lain adalah banyak ahli yang berasal dari Barat yang melihat Islam di
kawasan Asia Tenggara dan yang lainnya dengan menggunakan tolak ukur yang
berasal dari Barat, sehingga dalam kesimpulan penelitiannya tidak selalu tepat.
Konstribusi studi wilayah ini memberikan suatu upaya untuk menggali ilmu
pengetahuan dan mengembangkannya sesuai dengan rumusan Islam, disamping juga
menopang bangunan suatu bangsa
Referensi
Abdullah,
Amin, Studi Agama Normativitas Atau Historisitas (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1999.
Abdullah,
Taufiq, Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Islam. Jakarta: LP3S,
1987.
Aqiqi, Najib
al-, Al-Musytasyriqun. Mesir: Daar an-Nahdhoh al-Mishriyah, 1958.
Azra,
Azyumardi, Perspektif Islam di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 1989.
Bahiy,
Muhammad, Al-Fikri ak al-Islami al-Hadist wa Shirotuhu bi al-Isti’mari
al-Gharbiyyi. Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyah, t.th.
Edward Said,
Culture and Imperialism. New York: Alfred A. Knof, 1993.
Fananie,
Peny Zainuddin, Studi Islam Asia Tenggara. Jakarta: Muhammadiyah
University Press, 1999.
Hornby, A.
S., Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Oxford: Oxford University
Press, 1986.
Ira M.
Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, jil. I. Jakarta: PT. Raja
Grapindo Persada, 1999.
Lubis, Nur
Ahmad Fadhil, Introductory Reading on Islamic Studies. Medan: IAIn
Press, 2000.
Madjid,
Nurcholish, Kaki Langit Peradaban Islam. Jakarta: Paramadina, 1977.
Nata,
Abuddin, Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Press, 1999.
Roff,
William R., Islam of Seculer? Some Reflection on Studies of Islam and
Society in Southeast Asia. Arckipel, 1985.
Salim,
Peter, Webster’s New World Dictionary . Jakarta: Modern English Press,
t.th.
Shaban,
M. A., Islamic History: A New Intrepretation. Cambridge: Cambridge
University Press, 1971.
Siba’i,
Mustafa, al-Istisyraq wal Mustasyriqun. Beiru: Daar Kutub
al-Ilmiyah, t.th.
Sou’yb,
Joesoef, Orientalisme dan Islam, entri dalam Ensiklopedi Islam. Jakarta:
PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993.
Watt, W.
Montgomery dan Piere Cachia, History Of Islamic Spain. Edinburgh:
Edinburgh University Press, 1977.
Ya’qub,
Ismail, Orientaslime dan Orientalisten. Surabaya: CV. Faizan, 1970.

No comments
Post a Comment