A.
Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Ilmu
Kalam
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu ke Islaman yang banyak
mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Pembicaraan
materi-materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq
(rasa rohaniah) sebagai contoh ilmu tauhid menerangkan bahwa Allah bersifat sama’
(mendengar), qudrah (kuasa), hayat (hidup), dan sebagainya.
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya,
kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara pada
ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan
keyakinan dan ketentraman, seperti dijelaskan juga tentang menyelamatkan diri
dari kemunafikan sebab terkadang seseorang mengetahui batasan-batasan
kemunafikan, tetapi tetap saja melaksanakannya. Allah SWT berfirman :
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا
وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ
وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا
ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Orang-orang
arab badui berkata, “kami telah beriman.” Katakanlah,”Kamu belum beriman,
tetapi katakanlah,’kami telah berislam (tunduk).”karena iman itu belum masuk
kedalam hatimu”
(Qs Al-Hujurat [49] : 14)
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi
sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Selain itu, ilmu
tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam
perdebatan-perdebatan kalam. Dalam dunia islam ilmu kalam cenderung menjadi sebuah
ilmu yang mengandung muatan rasional, disamping muatan naqliah. Disinilah ilmu
tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak dikesani
sebagai dialektika keislaman belaka yang kering dari kesadaran penghayatan atau
sentuhan secara qalbiyah (hati).
Dengan demikian, Ilmu Tasawuf merupakan penyempurna Ilmu
Tauhid jika di lihat dari sudut pandang bahwa Ilmu Tasawuf merupakan sisi
terapan rohaniyah dari Ilmu kalam. jika timbul suatu aliran yang bertentangan
dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan
al-Qur’an dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan.
Selain itu, Ilmu Tasawuf juga berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniyah
dalam perdebatan Kalam. Jika tidak dimbangi oleh kesadaran rohaniyah, Ilmu
Kalam dapat bergerak kearah yang lebih liberal dan bebas.
Maka kesimpulannya, bahwa dengan ilmu tasawuflah semua
persoalan yang berada dalam kajian ilmu tauhid terasa lebih bermakna, tidak
kaku, tetapi akan lebih dinamis dan aplikatif. Perbedaan antara Ilmu Tasawuf
dengan ilmu kalam lebih terletak pada masalah penekannanya dari pada isi
ajaranya. Selain persoalan trasnsendentalisme ilmu kalam juga lebih
mengutamakan pemahaman masalah-masalah ketuhanan dalam pendekatan yang rasional
dan logis.
B.
Hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu
fiqih
Fiqih asal kata dari Fiqhi (faham), tegasnya ilmu cara
memahamkan syari’at, hukum, larangan, dan suruhan, wajib dan haram.Biasanya
pembahasan kitab-kitab fiqih selalu dimulai dari taharah (tata cara bersuci),
kemudian persoalan-persoalan fiqih lainya. Namun, pembahasan ilmu fiqih tentang
thaharah atau lainya tidak secara langsung terkait dengan pembicaraan
nilai-nilai rohaniahnya. Padahal, thaharah akan terasa lebih bermakna jika
disertai pemahaman rohaniahnya.
Segala yang tersebut itu adalah mengenai Ilmu Zahir. Maka disamping itu dengan
sendirinya timbulah ilmu bathin. Bukankah segala syari’at itu harus kita
kerjakan dengan hati patuh? Dan siapa tuhan itu? Dan siapa kita? Kita disuruh
mengerjakan yang baik dan dilarang mengerjakan yang jahat! Kita akan diberi
pahala kalau mematuhi perintah dan menghentikan larangan! Tetapi apakah
hubungan kita dengan tuhan itu hanya hubungan seorang majikan yang memberi
gaji? Atau apakah hubungan kita itu lebih tinggi dari itu, yaitu karena cinta!
Disinilah pangkal Ilmu Tasawuf, Ilmu tasawuf berhasil
memberikan corak batin terhadap ilmu fiqih, corak batin yang dimaksud adalah
ikhlas dan khusyuk berikut jalannya masing-masing. Bahkan, ilmu ini mampu
menumbuhkan kesiapan manusia untuk melaksanakan hukum-hukum fiqih karena
pelaksanaan kewajiban manusia tidak akan sempurna tanpa perjalanan rohaniah.
Ilmu tasawuf dan ilmu fiqih adalah dua disiplin ilmu yang saling melengkapi.
Setiap orang harus menempuh keduanya, dengan catatan bahwa kebutuhan
perseorangan terhadap ilmu ini sangat beragam sesuai dengan kadar kualitas
ilmunya.
Dari sini dapat dipahami bahwa ilmu fikih, yang terkesan
sangat formalistik – lahiriyah, menjadi sangat kering, kaku, dan tidak mempunyai
makna bagi penghambaan seseorang jika tidak diisi dengan muatan kesadaran
rohaniyah yang dimiliki ilmu tasawuf. Begitu juga sebaliknya, tasawuf akan
terhindar dari sikap-sikap ”merasa suci” sehingga tidak perlu lagi
memperhatikan kesucian lahir yang diatur dalam ilmu fikih.
C.
Hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu
filsafat
Dengan tasawuf yang artinya adalah pembersihan batin,
jelaslah oleh kita sekarang dari mana dasar tempatnya dan kemana tujuannya.
Yang berjalan dalam tasawuf adalah perasaan, sedang filsafat kepada fikiran.
Sekarang tentu jelaslah perbedaan tasawuf dengan dengan filsafat, filsafat
penuh dengan tanda tanya apa, bagaimana, darimana, dan apa sebab? Sedang
tasawuf tidak.
Seseorang tidak akan dapat memahami cacad yang ada pada suatu ilmu kecuali
apabila dia telah memahami benar-benar ilmu tersebut dengan sempurna, paling
tidak ia harus dapat menyamai seorang ahli yang paling banyak ilmunya dalam hal
pokok-pokok dasar filsafat, selanjutnya dilampaui dan diatasinya ilmu itu, hal
mana para ahli yang paling banyak pengetahuan itu telah banyak mengetahui
mana-mana yang baik dan mana-mana yang buruk ilmunya itu.
Ilmu tasawuf yang berkembang didunia islam tidak dapat
dinafikan sebagai sumbangan pemikiran kefilsafatan. Sederetan intelektual
muslim juga banyak mengkaji tentang jiwa dan roh, diantaranya adalah Al-Kindi,
Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali.
Menurut
sebagian ahli tasawuf, An-Nafs (jiwa) adalah roh dan jasad melahirkan pengaruh
yang ditimbulkan oleh jasad dan roh. Pengaruh-pengaruh ini akhirnya memunculkan
kebutuhan-kebutuhan jasad yang dibangun oleh roh jika jasad tidak memiliki
tuntutan-tuntutan yang tidak sehat dan disitu tidak terdapat kerja pengekangan
nafsu, sedangkan qalbu (hati) tetap sehat, tuntutan-tuntutan jiwa terus
berkembang, sedangkan jasad menjadi binasa karena melayani hawa nafsu.
D.
Hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu
jiwa
Dalam pembahasan tasawuf dibicarakan tentang hubungan jiwa
dengan badan agar tercipta keserasian diantara keduanya. Pembahasan tentang
jiwa dengan badan ini dikonsepsikan para sufi untuk melihat sejauh mana
hubungan perilaku yang dipraktikkan manusia dengan dorongan yang dimuculkan
jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi dan hal itu menyebabkan mental
seseorang menjadi kurang sehat karena jiwanya tidak terkendali.
Sementara cakupan golongan yang kurang sehat sangatlah luas,
dari yang paling ringan sampai yang paling berat; dari orang yang merasa
terganggu ketentraman hatinya hingga orang yang sakit jiwa. Gejala umum yang
tegolong pada orang yang kurang sehat dapat dilihat dalam beberapa segi, antara
lain :
1. Perasaan, yaitu perasaan terganggu,
tidak tentram, gelisah, takut yang tidak masuk akal, rasa iri, sedih yang tidak
beralasan, dan sebagainya.
2. Pikiran, gangguan terhadap kesehatan
mental dapat pula memengaruhi pikiran, misalnya anak-anak menjadi bodoh
disekolah, pemalas, pelupa, suka membolos, tidak dapat berkonsentrasi, dan
sebagainya
3. Kelakuan, pada umumnya kelakuannya
tidak baik, seperti nakal, keras kepala, suka berdusta, menipu, menyeleweng,
mencuri, menyiksa orang lain, membunuh, dan sebagainya, yang menyebabkan orang
lain menderita dan haknya teraniaya.
4. Kesehatan, jasmaninya dapat
terganggu bukan adanya penyakit yang betul-betul mengenai jasmani itu, tetapi
sakit akibat jiwa yang tidak tentram. Penyakit ini disebut psikosomatik dan
gejala yang sering terjadi seperti sakit kepala, lemas, letih, sering masuk
angin, tekanan darah tinggi atau rendah, jantung, sesak nafas, sering pingsan
(kejang), bahkan sakit kepala yang lebih berat seperti lumpuh sebagian anggota
badan, lidah kaku, dan sebagainya yang penting adalah penyakit jasmani ini
tidak mempunyai sebab-sebab fisik sama sekali.
Semua praktek dan amalan-amalan dalam tasawuf adalah
merupakan latihan rohani dan latihan jiwa untuk melakukan pendakian spritual
kearah yang lebih baik dan lebih sempurna. Dengan demikian, amalan-amalan
tasawuf tersebut adalah bertujuan untuk mencari ketenangan jiwa dan
keberhasilan ahli agar lebih kokoh dalam menempuh liku-liku problem hidup yang
beraneka ragam serta untuk mencari hakekat kebenaran yang dapat mengatur
segala-galanya dengan baik.
Manusia sebagai makhluk Allah memiliki jasmani
dan rohani. Salah satu unsur rohani manusia adalah hati (Qalbu) disamping hawa
nafsu. Karena itu penyakit yang dapat menimpa mansia ada dua macam, yaitu
penyakit jasmani dan penyakit rohani atau jiwa atau qalbu. Di dalam beberapa
ayat Al-Qur’an dikatakan bahwa di dalam hati manusia itu ada penyakit, Antara
lain penyakit jiwa manusia itu adalah iri, dengki, takabur, resah, gelisah,
khawatir, stress dan berbagai penyakit jiwa lainnya. Dengan tasawuf manusia
akan dapat menghindarkan diri dari penyakit kejiwaan (psikologis) berupa
perilaku memperturutkan hawa nafsu keduniaan, seperti: iri, dengki, takabbur,
resah, gelisah, khawatir, stress dan berbagai penyakit jiwa lainnya. Tasawuf
berusaha untuk melakukan kontak batin dengan Tuhan, berusaha untuk berada
dihadirat Tuhan, sudah pasti akan memberikan ketentraman batin dan kemerdekaan
jiwa dari segala pengaruh penyakit jiwa. Dengan demikian antara tasawuf dengan
ilmu jiwa memiliki hubungan yang erat karena salah satu tujuan praktis dari
ilmu jiwa adalah agar manusia memiliki ketenangan hati, ketentraman jiwa dan
terhindar dari penyakit-penyakit psikologis.

No comments
Post a Comment