A.Sejarah Singkat
Secara etimologis akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq
yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Dari pengertian
etimologis seperti ini, akhlak bukan saja merupakan tata aturan atau norma
perilaku yang mengatur hubungan antar sesama manusia, tetapi juga norma yang
mengatur hubungan antar manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta.
Sedangkan, Ilmu Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas baik dan buruk,
terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.
Jadi ilmu akhlak adalah ilmu yang mempersoalkan baik buruknya amal.
Akhlak dalam arti bahasa, sebenarnya sudah dikenal manusia
di atas permukaan bumi ini yaitu apa yang disebut dengan istilah adat-istiadat
(tradisi) yang dihormati, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga dan
masyarakat. Dalam keadaan terputusnya wahyu (zaman fatrah) maka tradisi itulah
yang dijadikan tolak ukur dan alat penimbangan norma pergaulan kehidupan
manusia, terlepas dari segi apakah itu baik atau buruk menurut setelah datang
wahyu.
Kalau kita memperhatikan bangsa arab di zaman jahiliyah,
misalnya: mereka sudah memiliki perangai halus dan rela dalam kehidupan
baik dan kemuliaan cukup. Tetapi juga pemarah luar biasa, perampok, perampas,
karena kejahatan mengancam diri atau kabilahnya. Hal ini Nampak dalam puisi-puisi
mereka sebagai bangsa yang buta huruf, tetapi daya ingatan dan hafalan mereka
sangat kuat. Misalnya: Zuhair ibnu abi Salam mengatakan: “Barang siapa menepati
janji tidak kan tercela dan barang siapa membawa hatinya menuju kebaikan yang
menentramkan, tidak akan ragu-ragu”.
Bangsa Arab sebelum Islam telah memiliki dalam kadar yang
minimal pemikiran dalam bidang akhlak. Pengetahuan tentang berbagai macam
keutamaan dan mengerjakannya, walaupun nilai yang tercetus lewat syair-syairnya
belum sebanding dengan kata-kata hikmah yang diucapkan oleh filosof-filosof
zaman kuno. Sewaktu islam datang yang dibawa oleh Muhammad SAW, maka Islam
tidak menolak setiap kebiasaan yang terpuji yang terdapat pada bangsa Arab,
Islam datang kepada mereka membawa akhlak yang mulia yang menjadi dasar
kebaikan hidup seseorang, keluarga, handai tolan, umat manusia serta alam
seluruhnya. Setelah Al-qur’an turun maka lingkaran bangsa Arab dalam segi
akhlak dari segi sempit menjadi luas dan berkembang, jelas arah dan sasarannya.
Dalam kaitannya dengan hal ini, akan dibahas mengenai sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlaq
dengan pendekatan religi, yaitu: pertama, pertumbuhan dan perkembangan ilmu
akhlak di luar ajaran Islam; kedua, pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak di
dalam ajaran Islam.
- Ilmu Aklak diluar Agama Islam
- Akhlak pada masa Yunani
Dasar yang digunakan para pemikir Yunani daam membangun ilmu
akhlak adalah pemikiran filsafat tentang manusia atau pemikiran tentang manusia
dan bersifat filosofis yaitu filsafat yang bertumpu pada kajian secara mendalam
terhadap potensi kejiwaan yang terdapat dalam diri manusia atau bersifat
antroposentris dan mengesankan bahwa akhlak adalah sesuatu yang fitri, yang
akan ada bersamaan dengan adanya manusia, dan hasil yang didapatkan berdasar
pada logika murni.
Filosof Yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399 SM). Kemudian diikuti oleh pengikutnya adlaah Cynics dan Cyrenics. Kedua golongan tersebut sama-sama berbicara tentang perbuatan yang baik, utama dan mulia.
Pada masa berikutnya datang Plato (427-347 SM). Plato berpendapat bahwa di dalam jiwa manusia terdapat kekuatan yang bermacam-maam, dan perbuatan yang utama timbul dari kemampuan membuat peimbangan dalam mendayagunakan potensi kejiwaan itu kepada hukum akal
Setelah Plato hadir Aristoteles (394-322 SM). Aristoteles berpendapat bahwa tujuan akhir yang dikehendaki oleh manusia dari apa yang dilakukannya adalah bahagia atau kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan itu adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya.
Filosof Yunani berikutnya yang terlahir adalah Stoics dan Epicurus (6-140 SM). Keseluruhan ajaran yang dikemukakan oleh mereka adalah bersifat rasionalistik. Penentuan baik dan buruk itu didasarkan pada pendapat akal pikiran yang ada pada diri manusia. Karenanya dapat dikatakan bahwa pemikiran filsafat yang dianut oleh para filosof Yunani ini adalah bersifat antropocentris (memusat pada manusia).
Filosof Yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399 SM). Kemudian diikuti oleh pengikutnya adlaah Cynics dan Cyrenics. Kedua golongan tersebut sama-sama berbicara tentang perbuatan yang baik, utama dan mulia.
Pada masa berikutnya datang Plato (427-347 SM). Plato berpendapat bahwa di dalam jiwa manusia terdapat kekuatan yang bermacam-maam, dan perbuatan yang utama timbul dari kemampuan membuat peimbangan dalam mendayagunakan potensi kejiwaan itu kepada hukum akal
Setelah Plato hadir Aristoteles (394-322 SM). Aristoteles berpendapat bahwa tujuan akhir yang dikehendaki oleh manusia dari apa yang dilakukannya adalah bahagia atau kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan itu adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya.
Filosof Yunani berikutnya yang terlahir adalah Stoics dan Epicurus (6-140 SM). Keseluruhan ajaran yang dikemukakan oleh mereka adalah bersifat rasionalistik. Penentuan baik dan buruk itu didasarkan pada pendapat akal pikiran yang ada pada diri manusia. Karenanya dapat dikatakan bahwa pemikiran filsafat yang dianut oleh para filosof Yunani ini adalah bersifat antropocentris (memusat pada manusia).
- Akhlak pada agama Nasrani
Menurut ajaran Nasrani, bahwa agama tersebut adalah
bersumber dari akhlak. Tuhanlah yang menentukan dan membentuk patokan-patokan
akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Tuhanlah yang menjelaskan baik dan buruk. Menurut agama ini yang disebut baik
adalah perbuatan yang disukai Tuhan, dan sebaliknya yang disebut buruk adalah
perbuatan yang tidak disukainya.
- Akhlak pada bangsa Romawi
Ajaran akhlak yang lahir pada saat ini (abad pertengahan)
adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan
ajaran Nasrani. Di antara mereka yang terkenal adalah Abelard, Perancis
(1079-1142) dan Thomas Aquinas, Italy (1226-1274).
- Akhlak pada agama islam
Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari
perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya. Akhlak harus ada serta
nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan
Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.
Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling
sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan
kesejahteraan. Semua ini terkandung dalam ajaran al-Qur’an yang diturunkan
Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.
Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam
perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi-nabi yang
tercatat dan diabadikan dalam kitab suci al-Qur’an.
- Nabi Ibrahim a.s.
Nabi Ibrahim a.s. mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua
nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia.
Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam menghadapi kezaliman. Ia
pernah menghancurkan patung-patung yang menjadi tuhan Raja Namruz dan para
pengikutnya, sehingga ia dibakar hidup-hidup.
Resiko perjuangan ditanggung sendiri oleh Nabi Ibrahim
sehingga menjadi teladan bagi istri dan pengikutnya. Keberanian Nabi Ibrahim
a.s. memberantas ajaran kemusyrikan merupakan ssimbol penting dalam ajaran
tauhid. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya pantang untuk berlaku syirik
kepada Allah SWT.
- Nabi Nuh a.s.
Ujian Nabi Nuh a.s. cukup berat karena ia harus menghadapi
kekufuran anaknya sendiri, yaitu Kan’an. Ia tidak putus asa mengajak dan menasehati
anaknya, meskipun akhirnya anaknya mati tenggelam terbawa arus banjir yang luar
biasa. Kisah itu adalah teladan bagi kita sebagai orangtua, untuk terus
membimbing anak, dan sebaliknya, anak yang membimbing orangtua agar
bersama-sama masuk surga.
- Nabi Luth a.s.
Nabi Luth a.s. menghadapi ujian yang sangat berat karena
umatnya memiliki penyimpangan seksual. Homoseksual dan Lesbian dipraktikkan
secara terang-terangan oleh masyarakat. Namun Nabi Luth tidak pernah bosan
dalam mendakwahi masyarakat tersebut walaupun pada akhirnya umatnya mendapatkan
azab dari Allah SWT berupa hujan batu dikarenakan kekeraskepalaan umatnya yang
tidak mau mengikuti ajaran Nabi Luth a.s.
Sikap Nabi Luth a.s. yang pantang menyerah walaupun
ajarannya tidak diindahkan oleh umatnya sepatutnya menjadi teladan bagi kita,
bahwa setiap melakukan kebajikan pasti kita akan mendapatkan suatu halangan
bahkan kadang kala halangan ini menjadikan kita putus asa. Untuk itulah sikap
pantang menyerah harus kita galakkan agar kita dapat menjalankan kebajikan di
dalam kondisi apapun.
- Nabi Ayyub a.s.
Nabi Ayyub a.s. adalah nabi yang sangat sabar karena ia
diberi penyakit kulit yang cukup lama. Istrinya pun merawat dengan sabar.
Istrinya pernah menyarankan agar nabi Ayyub a.s. meminta kepada Allah SWT untuk
mencabut penyakitnya, tetapi ia merasa malu karena kenikmatan yang telah
diberikan yang telah diberikan oleh Allah SWT masih terlampau besar
dibandingkan dengan penyakit yang dideritanya.
Kesabaran serta kesadaran nabi Ayyub yang luar biasa ini harus kita tiru dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Sehingga nantinya kehidupan kita diselimuti oleh rasa tenang dan selalu bersyukur dalam situasi apapun.
Kesabaran serta kesadaran nabi Ayyub yang luar biasa ini harus kita tiru dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Sehingga nantinya kehidupan kita diselimuti oleh rasa tenang dan selalu bersyukur dalam situasi apapun.
- Nabi Musa a.s.
Nabi Musa a.s. adalah seorang nabi yang sejak bayi telah dibuang
oleh ibunya karena pada masa itu, jika ada seorang bayi laki-laki yang lahir,
kemudian Fir’aun mengetahuinya, ia akan segera membunuhnya.
Singkat cerita akhirnya Nabi Musa a.s. menjadi anak angkat
Fir’aun dikarenakan permintaan dari Istri Fir’aun untuk mengangkat anak yang
ditemukannya menjadi anak angkatnya.
Sesungguhnya, akhlak Nabi Musa a.s. sangat penting untuk
ditiru, bagi penguasa yang kuat hendaknya menjadikan kekuatannya untuk membasmi
kemunkaran dan kemaksiatan, bukan sebaliknya, digunakan untuk mendirikan
pusat-pusat kejahatan, pelacuran, dan pembela kezaliman.
- Nabi Isa a.s.
Nabi Isa a.s. adalah nabi yang penuh rasa cinta kasih kepada
umatnya. Keahliannya digunakan untuk mengobati orang-orang yang miskin.
Hendaknya, akhlak Nabi Isa a.s. ditiru oleh para dokter dan ahli kesehatan,
juga oleh orang-orang kaya untuk membantu ekonomi orang-orang fakir dan miskin.
- Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir, beliau
mengalami suka duka yang sangat banyak. Beliau sudah menjadi yatim-piatu sejak
kecil. Akhlaknya sangat mulia dan dikagumi oleh semua orang, bahkan oleh orang
kafir Quraisy dan mendapatkan gelar Al-Amin (orang yang jujur dan terpecaya.
Nabi Muhammad SAW adalah penyebar kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Beliau sangat pemaaf meskipun kepada orang yang telah menyakitinya. Bahkan, beliau menengok orang yang setiap hari meludahinya. Beliau ditawari untuk meninggalkan dan mengingkari Allah SAW dengan harta yang berlimpah namun Nabi Muhammad SAW menolak mentah-mentah tawaran tersebut.
Akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai ayah dari anak-anaknya, suami dari istri-istrinya, komandan perang, mubaligh, imam, hakim, pedagang, petani, penggembala, dan sebagainya merupakan akhlak yang harus diteladani.
Nabi Muhammad SAW adalah penyebar kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Beliau sangat pemaaf meskipun kepada orang yang telah menyakitinya. Bahkan, beliau menengok orang yang setiap hari meludahinya. Beliau ditawari untuk meninggalkan dan mengingkari Allah SAW dengan harta yang berlimpah namun Nabi Muhammad SAW menolak mentah-mentah tawaran tersebut.
Akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai ayah dari anak-anaknya, suami dari istri-istrinya, komandan perang, mubaligh, imam, hakim, pedagang, petani, penggembala, dan sebagainya merupakan akhlak yang harus diteladani.
Dalam 100 tokoh yang tekemuka di dunia, Nabi Muhammad SAW
menjadi/menduduki peringkat pertama, sebagai orang yang paling berpengaruh di
dunia. Beliau peletak dasar negara modern di Madinah yang merumuskan perjanjian
yang adil ditengah-tengah masyarakat sukuistik dan pemeluk Yahudi dan Nasrani.
Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap apa yang ada di dunia ini.
Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakuinya bahwa Dialah pencipta, pemelihara, pemberi rahmat, pelindung terhadap apa yang ada di dunia ini.
Selain itu, agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia
yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan
dan kesejahteraan. Hukum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan
tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan yang baik.
Sangatlah jelas bahwa dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat
yang mengandung pokok-pokok akidah kegamaan, keutamaan akhlak dan
prinsip-prinsip dan tata nilai perbuatan manusia.
Mengenai pembinaan akhlak dapat dijelaskan pendapat
Ath-Thabatabi sebagai berikut;
- Pertama, menurut petunjuk al-Qur’an dalam hidupnya manusia hanya menuju kepada kebahagiaan, ketenangan dan pencapaian cita-citanya.
- Kedua, perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia senantiasa berada dalam suatu kerangka peraturan dan hukum tertentu.
- Ketiga, jalan hidup terbaik dan terkuat manusia adalah jalan hidup berdasarkan fitrah, bukan berdasarkan emosi dan dorongan hawa nafsu.
- Aklak pada zaman baru
Akhlak pada zaman baru ini berkisar pada akhir abad kelima
belas M, dimana Eropa mulai mengalami kebangkitan di bidang filsafat, ilmu
pengetahuan dan teknologi. Akhlak yang mereka bangun didasarkan pada
penyelidikan menurut kenyataan empirik dan tidak mengikuti gambaran-gambaran
khayal atau keyakinan yang terdapat dalam ajaran agama. Sumber akhlak dari
dogma dan doktrin agama mereka ganti dengan logika dan pengalaman empirik.
Beberapa tokoh etika dalam masa ini di antaranya; Descartes, Shafesbury dan
Hatshon, Bentham, Jhon Stuart Mill Kant dan Bertrand Russel.
Salah satu ajaran penting tentang etika pada masa ini adalah bersumber pada intuisi yang diklasifikasikan menjadi empat, yaitu;
Salah satu ajaran penting tentang etika pada masa ini adalah bersumber pada intuisi yang diklasifikasikan menjadi empat, yaitu;
- Intuisi mencari hakikat atau mencari ilmu pengetahuan;
- Intuisi etika dan akhlak, yaitu cenderung kepada kebaikan;
- Itnuisi estetika yaitu cenderung kepada segala sesuatu yang mendatangkan keindahan, dan
- Intuisi agama yaitu perasaan meyakini adanya yang menguasai alam dengan segala isinya.
Referensi
Abudin Nata. Akhlak Tasawuf. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2002
Beni Ahmad Saebani dan Abdul Hamid. Ilmu Akhlak. Bandung : Pustaka Setya. 2010.
Taqiyuddin an Nabhani. Peraturan Hidup Dalam Islam. Bogor : Thariqul Izzah. 2003.
Ardani, Moh. Akhlak Tasawuf (Nilai-nilai akhlak/ budipekerti dalam ibadat dan tasawuf), Jakarta: PT Karya Mulia, 2005.
AR, Zahruddin dkk. Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004.
Muthahhari, Murtadha. Falsafah Akhlak. Bandung: Pustaka Hidayah, 19
Abudin Nata. Akhlak Tasawuf. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2002
Beni Ahmad Saebani dan Abdul Hamid. Ilmu Akhlak. Bandung : Pustaka Setya. 2010.
Taqiyuddin an Nabhani. Peraturan Hidup Dalam Islam. Bogor : Thariqul Izzah. 2003.
Ardani, Moh. Akhlak Tasawuf (Nilai-nilai akhlak/ budipekerti dalam ibadat dan tasawuf), Jakarta: PT Karya Mulia, 2005.
AR, Zahruddin dkk. Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004.
Muthahhari, Murtadha. Falsafah Akhlak. Bandung: Pustaka Hidayah, 19

No comments
Post a Comment